Oase Bernama Perpustakaan Desa

Posted on Sunday, May 10, 2009 by donlenon

Sebuah perpustakaan yang terletak di pedesaan, bisa diibaratkan layaknya oase di padang pasir yang gersang. Sebab disadari atau tidak, sejumlah kendala seperti masih amburadulnya akses transportasi maupun minimnya jumlah pendapatan, kerap membuat mayoritas warga pedesaan belum dapat mengakses pengetahuan secara optimal.

Alih-alih untuk membeli buku, sebagian besar pendapatan warga desa sudah di "booking" untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Kalaupun ada sisa, biaya kebutuhan pertanian maupun ternak yang terus meningkat tentu sudah menunggu untuk diisi. Maka tidak heran jika keberadaan perpustakaan desa pada akhirnya bisa menjadi salah satu gerbang bagi warga pedesaan untuk memperluas cakrawala pengetahuan mereka.

Seperti yang terjadi pada Perpustakaan Desa bernama "Brankkid" yang terletak di Pedukuhan Pundak III Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Keberadaan perpustakaan di desa yang terletak di lereng perbukitan Menoreh, itu setidaknya dapat membuka cakrawala dan mendorong kreatifitas warga desa. "Semenjak ada perpustakaan ini minat baca dan belajar warga meningkat," ujar Dony Susanto, pengurus perpustakaan tersebut.

Lalu bagaimana awal mula terbentuknya perpustakaan Brankkid ini?? Apa yang dilakukan pengurusnya untuk "menghidupi" kegiatan dengan cuma-cuma??

Perpustakaan Brankkid, jika menilik namanya yang unik itu jangan dibayangkan kata tersebut berasal dari bahasa Inggris. Brankkid adalah kepanjangan dari Sebrang Kidul. “Bahasa Jawa yang coba di Inggriskan,” begitu kata Dony yang juga menjabat sebagai sekretaris karang taruna ‘Harum’ desa Kembang.

Terbentuknya perpustakaan ini bermula dari acara kumpul-kumpul pengurus karang taruna setempat. Awalnya, mereka Cuma hendak membentuk tempat kongkow-kongkow di desa itu. Siapa sangka, ide awal tersebut pada akhirnya berkembang menjadi perpustakaan desa. “Berawal dari ngobrol-ngobrol para remaja itulah, akhirnya terbentuk Brankkid library ini,” kata Arisapta Nawang, kepala Perpustakaan ini.

Hingga kini, koleksi perpus desa ini sudah berjumlah lebih kurang 220 buah. Pengadaan koleksi awal di perpustakaan ini berasal dari bantuan propinsi DIY sebesar Rp 6 juta dalam bentuk buku. Jenis buku yang terdapat di perpustakaan inipun cukup beragam, diantaranya mengenai pertanian dan agrobisnis, bahasan sosial, alam, fiksi, agama, dan juga sastra. “Koleksi perpustakaan ini cukup bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sini, karena mencakup banyak tema. Dari mulai wirausaha sampai pertanian ada di sini,” kata Aris.

Sebagai perpustakaan perintisan, Brankkid dikelola secara sukarela oleh pengurus karang taruna setempat. Tercatat terdapat 10 pengurus yang aktif mengelola perpustakaan ini. Secara tertulis, perpustakaan ini hanya melayani pengunjung selama tiga kali seminggu, yakni tiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Namun, karena antusias warga yang terus meningkat, perpus inipun pada akhirnya membuka pintunya untuk para pengunjung setiap hari. “Setelah (perpustakaan) terbentuk, ternyata antusias warga sangat besar. Pada pertengahan Juli 2007, saat buku-buku bantuan propinsi ini baru saja datang. Belum lagi diberi label, warga sudah banyak yang antre ingin meminjam,” kata Aris.

Aris dan Dony, berupaya menggalakkan budaya membaca warga

Adanya perpustakaan rintisan ini, menurut Dony mampu mendorong minat baca warga setempat. Hal itu terbukti dari perputaran buku yang terus bergairah. Dalam sehari, Dony mengaku jumlah pinjaman bisa mencapai lima buku. “Lokasi perpustakaan yang berada di tengah-tengah kampung membuat perkembangan perpus ini lumayan cepat. Tiap harinya ada saja pengunjung yang berdatangan," ucap pemuda yang juga pengajar bahasa inggris di sejumlah sekolah di desa kembang itu.

Untuk menghindari kebosanan warga, pihak pengelola perpustakaan melakukan aktualisasi buku dengan menjalin kerja sama dengan perpustakaan di sekolah-sekolah sekitar dusun maupun perpustakaan keliling. Tidak kurang terdapat dua sekolah yang setiap minggunya rutin melakukan pinjam meminjam dengan perpustakaan ini. “Saat ini kami sudah melakukan kerja sama dengan Perpustakaan SDN Boto dan SDN Ngrojo. Tiap minggunya kami meminjam sekitar 20 buku baru yang yang sekiranya disukai anak-anak dan remaja setempat,” kata Dony.

Meski terhitung sudah berjalan setahun, Dony mengaku perpustakaan yang memiliki luas sekitar 8x5 meter ini belum memliki katalog sendiri. Selama ini peminjaman buku dilakukan dengan manual alias menggunakan catatan dan buku tamu. Judul buku, peminjam, dan tanggal pengembalian kadang malah ditulis sendiri oleh peminjam. "Para warga di sini malah lebih suka hal yang simple dan tidak neko-neko seperti ini. Adanya katalog malah membuat banyak warga bingung,” ujar Dony.

Dalam mengelola perpustakaan secara sukarela, diakui Aris masih terdapat sejumlah kendala. Diantaranya adalah masih kurangnya pemenuhan dana dan waktu. "Selain di sini, mayoritas pengurus juga memiliki berbagai aktifitas di luar kegiatan Perpustakaan. Akibatnya para pengurus tidak bisa seratus persen mampu meluangkan waktunya untuk mengelola perpus ini,” kata Aris yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan administrasi pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Namun meski begitu, para pengurus tetap berharap adanya perpus ini nantinya bisa menjadi perpus percontohan bagi desa-desa lain. Ke depannya, pihak karang taruna tetap berusaha menambah koleksi perpus dengan mengadakan buku-buku teknis seperti diktat dan tutorial. “Tujuannya tentu untuk mendorong warga sekitar agar dapat menggapai pengetahuan dengan lebih baik. Pada intinya kami ingin mendorong warga meraih kemerdekaan dalam berpikir dan menuntut ilmu,” ujar Dony.

Bagaimana dengan perpustakaan di tempat atau kota anda??

7 Response to "Oase Bernama Perpustakaan Desa"

.
gravatar
Andri Journal Says....

Bagus bgt kisahnya,sangat menginspirasi. ;) Membaca memang sangat penting untuk menambah ilmu.Tak hanya anak2 saja,orang dewasa jg butuh tambahan ilmu,misalnya tentang cara beternak ayam.Kalo beternaknya pake ilmu biasanya hasilnya jg bagus.

.
gravatar
donlenon Says....

@andri: hm, tidak salah apa yang anda kemukakan bung. dengan membaca, jangankan beternak ayam, tata cara mempersembahkan sesajen pada malem jumat kliwon pun bisa diperoleh, asalkan bacaannya tepat... he he

.
gravatar
Tukang Nggunem Says....

Sungguh ide yang brilian dan mulia sekali, sekaligus mensukseskan cita2 bangsa (mencerdaskan kehidupan bangsa, hehehe..)

Kebetulan salah satu proyek komunitas blogger Bengawan juga mbikin perpustakaan di salah satu kampung miskin di Solo, sampai sekarang masih dalam tahap mengumpulkan buku...

Wes mulai mlebu kerjo to Mas?

.
gravatar
Ngatini Says....

opo iyo njoel... gila.. aktifis banget ya mas mas ini...

.
gravatar
donlenon Says....

@Nggunem: alhamdulillah wa syukurillah, sekarang sudah mulai kerjo meski masih berstatus pupuk bawang alias di kongkon-kongkon T_T

@Ngatini: Jangan mau ketinggalan sama kang Panjul donk, ingat apa kata rudi, "jadilah aktifwati yang suka menabung..."

.
gravatar
DITAGIRI Says....

Selamat ya mas Dona, mas Dona adalah orang ke-3 yang di reView sama ditagiri. ini link page review mas dona

http://ditagiri.blogspot.com/2009/05/wahyu-dona-pasa-sulendra.html

jangan lupa pake badge-nya ya mas! ;-)

.
gravatar
donlenon Says....

@Dita: ok, thank banget buat reviewnya. bisa juga nih dita men-dig up info tentang saya.. he he terima kasih ya..