Praptowiyono, Blangkon dan Apresiasi Generasi Muda

Posted on Sunday, June 14, 2009 by donlenon

Penampilan tidak bisa menggambarkan segalanya. Tidak banyak orang yang menyangka, Praptowiyono, kakek berumur 73 tahun yang bersahaja itu merupakan salah satu Maestro pembuat blangkon mataram yang masih tersisa di Yogyakarta.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan sosok ringkihnya. Tinggal di rumah sederhana kawasan dusun Pronosutan, Desa Kembang, Nanggulan, sosok Praptowiyono terlihat seperti warga pedesaan pada umumnya. Dengan rambut memutih, kacamata minus dan senyuman tersungging, tidak banyak orang ngeh bahwa kakek empat cucu ini merupakan salah satu maestro pembuat blangkon di Yogyakarta. Meski terlihat low profile, hingga kini hasil karyanya masih diburu para pecinta blangkon dari berbagai penjuru dunia.

Mbah Prapto memang seorang perajin blangkon tulen. Meski sudah menginjak usia senja, ia masih giat berkarya. Sudah hampir lima dasawarsa ini ia berkecimpung di dunia yang telah membesarkannya itu. Sejak tahun 1953, seni membuat blangkon mulai ia geluti dari arahan ayahnya, Pawiro Taruno. Pada tahun-tahun itu, blangkon masih berada pada masa keemasannya. Mbah Prapto bercerita, saat itu perajin blangkon merupakan salah satu pekerjaan yang cukup menjanjikan.

Pasar Blangkon yang tengah bergairah, membuat ia dan setidaknya 25 orang pembuat blangkon lainnya, menggantungkan penghasilan dari usaha itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, apresiasi terhadap blangkon dia rasakan semakin berkurang.

Sejak kapan pamor Blangkon mulai merosot??

Mbah Prapto mengatakan kemerosotan minat masyarakat terhadap blangkon mulai terjadi pada kisaran tahun 1965. Suatu masa ketika baju batik dan peci hitam mulai dicanangkan sebagai baju nasional. Walhasil, usaha pembuatan blangkon pun bagai mendapat gempuran badai. Tidak hanya jumlah pesanan terus menurun, para pengrajin pun banyak yang gulung tikar.

Hingga kini, Mbah Prapto mengaku dari sekitar 25 rekannya pengrajin blankon itu, tinggal ia sendiri yang masih melanjutkan usaha turun temurun tersebut. Mbah Prapto mengaku masih tetap melestarikan keahlian dari bapaknya itu sebagai upaya melestarikan budaya jawa. "Hal ini saya teruskan sebagai upaya mempertahankan adat. Prinsip saya, selama ada kraton di Yogyakarta, usaha seperti ini tidak akan mati,” ujarnya.

Prinsip itu tampaknya cukup terbukti dari terus berdatangannya pesanan. Bahkan, pesanan tidak hanya datang dari dalam negeri saja, tapi juga dari kalangan pecinta blangkon di luar negeri seperti dari Australia, perancis, belanda, jerman hingga Amerika serikat. Untuk urusan dalam negeri, pesanan blangkon buatannya selain dijajakan di Yogya, juga banyak dijual di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Solo. Blangkon produksi Mbah Prapto juga sudah sering menghiasi layar kaca televisi, melalui program seperti Ketoprak Humor yang dulu sering nongol di RCTI ataupun Pangkur Jenggleng di TVRI Jogja.

Untuk masalah pemasaran produknya, Mbah Prapto mengaku tidak melakukan trik khusus untuk menggaet konsumen. Ia menyerahkan sepenuhnya pada kepuasan konsumen. "Kualitas produk yang akan mendatangkan konsumen lainnya. Biasanya secara gethok tular," ujarnya. Saat ini, Mbah Prapto tidak lagi mengejar kuantitas dalam berkarya. Lantaran terbentur faktor usia, dalam sebulan ia hanya mampu menghasilkan rata-rata 10 buah blangkon. "Sebab, semuanya masih saya tangani sendiri," katanya.

Meski era globalisasi terus membuat apresiasi generasi muda terhadap blangkon kian menipis, Mbah Prapto mengaku tidak terlalu khawatir. Ia bahkan mengungkapkan akan terus berupaya melestarikan perkembangan blangkon di tanah air. Untuk urusan yang satu ini, Mbah Prapto sudah memulai upaya melestarikan kebudayaan Jawa itu dengan meneruskan tongkat estafet pada cucunya, Dwi Krisantoro (20).

Cucunya itu sudah mulai belajar membuat blangkon dibawah asuhannya sejak kelas 5 SD. "Ia sudah mulai mahir saat menginjak SMP," ujar Mbah Prapto bangga. Pada calon penerusnya itu, selain menurunkan keahlian membuat blangkon, Mbah Prapto juga mengajarkan sejumlah filsafat yang sudah dipegang turun temurun dari para leluhurnya. Diantaranya teliti, jujur, dan disiplin. "Dengan jujur dan disiplin menghargai waktu, pelanggan akan puas. Sedangkan dengan ketelitian, kualitas produk akan tetap terjaga," katanya.

Bagaimana dengan pelestarian kebudayaan di daerah anda??

* Tulisan ini pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat dan di preview online salah satunya di sini.

4 Response to "Praptowiyono, Blangkon dan Apresiasi Generasi Muda"

.
gravatar
Idub Says....

Wah.. jujur saja, saya sendiri kurang melestarikan budaya sendiri.. jadi mau ngebahas juga malu.. hehehe..

Tapi salut deh, sama orang2 seperti Pak Praptowiyono gitu..

.
gravatar
Andri Journal Says....

Tulisannya sangat berbobot dan menginspirasi siapa saja yg baca. Aku sebenarnya ingin juga bikin tulisan yang sama. Tp apa daya...lagi gak ada ide. ;p

.
gravatar
budiernanto Says....

apa yang bisa diulas dari bekasi ya?
jalan rusak mungkin, kemacetan, cuaca panas.. ga ada sisi budayanya di sini, huhuhuuu..