
Pemandangan seperti itu sudah menjadi "makanan" sehari-hari Saniyem. Semenjak pukul 07.00 pagi, Saniyem ditemani kakak perempuannya Sawiyem (43) sudah mangkal dilokasi pengepul batu dan segera menenggelamkan diri dengan kerasnya bebatuan hingga pukul 05.00 sore. Saniyem yang memiliki dua anak berusia 12 dan 15 tahun, merasa terpanggil untuk "turun tangan" agar dapur rumahnya tetap mengepul. Baut (41), suaminya yang berprofesi sebagai buruh cangkul, tidak memiliki penghasilan tetap. Hanya saat para pemilik sawah membutuhkan tenaganya, dia bisa sedikit tersenyum membawa rejeki sekadarnya. "Hal seperti ini kami lalui setiap hari. Tidak ada hari libur, sebab Minggu pun kami tetap kerja. Ya, mau bagaimana lagi, tuntutan hidup," ujar Saniyem sambil mengelap keringat di dahinya.
Saniyem mengaku, pekerjaan inilah yang paling ia kuasai. Minimnya tingkat pendidikan membuat dia tidak memiliki opsi lain, dan bahkan dia mengaku sudah berkecimpung dalam dunia per-batu-an ini semenjak berusia 15 tahun. "Sejak orang tua saya masih hidup, bekerja seperti ini sudah menjadi santapan saya sehari-hari," katanya dengan menyungging senyum. Dengan sistem borongan, tiap harinya kedua kakak beradik ini bisa menyelesaikan tidak kurang dari satu meter kubik batu yang dihargai sebesar Rp 20 ribu. Besarnya nominal ini masih harus dibagi berdua, lantaran keduanya memiliki keluarga masing-masing yang musti dihidupi.
Sawiyem, sang kakak, bahkan harus menopang kehidupan keluarganya seorang diri. Semenjak ditinggal suaminya yang entah pergi kemana, ia musti menjadi orang tua tunggal bagi kedua anaknya. demi mengurangi bebannya, sang sulung kadang membantu pekerjaan ibunya itu. "Biasanya dia membantu sehabis sekolah," katanya.
Di tengah percakapan, dari kejauhan mendung mulai tampak menggelayut di langit. Cuaca yang kerap kali berganti dengan cepat, membuat raut muka kedua kakak beradik ini berubah drastis. Mereka berdua sependapat kalau tantangan pekerjaan mereka hari-hari ini semakin berat. Hal ini bukan saja lantaran makin banyaknya jumlah buruh batu, melainkan saat ini penghasilan mereka juga banyak bergantung pada besar kecilnya rintik air hujan. "Saat hujan turun, praktis jam kerja kami berkurang," ujar Sawiyem.
Tuntutan hidup yang semakin meningkat, membuat tiap insan berupaya lebih giat menjemput rejeki masing-masing. Dan keduanya pun terpaksa menunggu hujan reda untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka. "Ya disyukuri saja mas," guman Saniyem sambil melepas lelah kala berteduh. Melihat keduanya, saya pun berkata dalam hati, "Andai saja mereka bertetangga dengan Kartini, mungkin suratan nasib keduanya bakal berkata lain.." :D

4 Comments:
Kisah yang sangat mengharukan..Hebat sekali bu Saniyem bisa membelah batu dalam tempo 10 jam..aku aja kalo disuruh bersih2 kebun paling satu jam juga udah capek.. ;p
@dokter Andri: tiap orang memang punya "jalannya" masing-masing pak. kalo menukil kata nike ardilla sih, "setiap orang dapat satu peranan, yang musti kita mainkan.." :D
Mas Dona, kalo nggak salah ini ada filmnya, lho, yg bikin namanya Ucu Agustin ...
Perempuan pemecah batu ini juga pernah ditulis di catetan pinggirnya GM. Beberapa dr mereka malemnya melacur, tapi mrk ngelakuin itu utk ngidupin keluarganya.
@Sundea: Wuih, melacur?! hm, aku malah ga sempat nanya kerja sambilan mereka sih. Kalo dari keterangan yang saya korek, selepas 'nguli' mereka lebih berkecimpung di rumah, ngurus keluarga.. d^^
Post a Comment